Berang-berang bukan hanya hewan pengerat yang lucu dan bergigi tajam; mereka adalah hewan yang dampaknya terhadap sejarah manusia sangat besar. Mulai dari memicu perekonomian awal Amerika Utara hingga memicu perang, kisah berang-berang terkait dengan perdagangan global, kolonisasi, dan bahkan perubahan ekologi. Beginilah cara makhluk sederhana ini meninggalkan jejaknya di dunia.

Biologi dan Perilaku Berang-berang

Berang-berang (genus Castor ) adalah hewan pengerat terbesar kedua di dunia, yang beradaptasi dengan gaya hidup semi-akuatik di Belahan Bumi Utara. Ada dua spesies: Berang-berang Eurasia dan Berang-berang Amerika Utara, yang berbeda secara genetik (48 vs. 40 kromosom) dan penampilannya sedikit.

Ciri khas mereka adalah kemampuan membangun bendungan. Berang-berang menebang pohon dengan rahang dan gigi seri yang kuat yang tidak pernah berhenti tumbuh, lalu membangun bendungan kedap air menggunakan dahan, lumpur, dan alang-alang. Bendungan ini bisa sangat besar – salah satunya di Alberta, Kanada, yang membentang hampir satu kilometer (0,6 mil) – dan secara radikal mengubah ekosistem dengan menciptakan kolam yang memperlambat erosi dan menyediakan habitat.

Berang-berang juga menggunakan ekornya yang rata dan bersisik untuk berenang, keseimbangan, dan komunikasi. Tamparan ekor di air berfungsi sebagai sinyal alarm, memperingatkan orang lain akan bahaya. Di musim dingin, ekornya juga membantu menyimpan lemak dan menjaga panas tubuh.

Perdagangan Bulu Berang-berang: Kekuatan Ekonomi Global

Selama berabad-abad, bulu berang-berang merupakan salah satu komoditas paling berharga di dunia. Bahan ini dihargai karena kehangatan, daya tahan, dan kesan mewahnya, sehingga penting untuk pakaian dan topi. Permintaan ini mendorong jaringan perdagangan besar-besaran, pertama di Eropa (dimulai pada abad ke-15 dengan berang-berang Eurasia) dan kemudian meledak di Amerika Utara setelah penjajahan.

Perdagangan bulu bukan hanya soal ekonomi; itu membentuk kembali masyarakat. Suku-suku asli beradaptasi dengan permintaan tersebut, beralih dari perburuan tradisional ke penangkapan terfokus. Negara-negara Eropa (Prancis, Inggris, Belanda) bersaing ketat untuk menguasai perdagangan, dan sangat bergantung pada pengetahuan dan keterampilan Pribumi.

Kulit berang-berang dinilai berdasarkan kualitas: bandeau (terendah), castor sec (tengah), dan castor gras (tertinggi). Yang terakhir, yang dikenakan oleh para pemburu, dihargai karena minyak tubuh membuatnya lebih lentur.

Perang Berang-berang: Pertumpahan Darah Karena Kulit

Pencarian bulu berang-berang secara langsung memicu konflik. Sejak tahun 1640 dan seterusnya, Konfederasi Iroquois dan suku-suku berbahasa Algonquian bentrok dalam apa yang dikenal sebagai Perang Berang-berang. Suku Iroquois, yang dipersenjatai dengan senjata api Eropa, memperluas wilayahnya ke barat untuk menguasai tempat perburuan baru, menggusur suku Algonquian.

Prancis, yang awalnya ragu untuk mempersenjatai sekutu Pribumi, akhirnya mengubah aliansi untuk mengamankan dominasi perdagangan bulu mereka sendiri. Konflik yang berlangsung selama beberapa dekade ini mengubah lanskap politik Amerika Utara. Kemampuan suku Iroquois untuk mengendalikan perdagangan berang-berang mengamankan dominasi mereka sekaligus memaksa penjajah Prancis membentuk aliansi yang tidak mudah.

Hampir Punah dan Pemulihan

Perburuan berlebihan hampir memusnahkan berang-berang di Eurasia dan Amerika Utara. Populasi Amerika Utara anjlok dari sekitar 200 juta menjadi hanya 100.000. Berang-berang Eurasia juga mengalami nasib serupa, hanya bertahan hidup di wilayah terpencil.

Untungnya, permintaan bulu berang-berang akhirnya berkurang, sehingga populasinya pulih. Pada abad ke-20, program reintroduksi dan perlindungan hukum membantu memulihkan kedua spesies tersebut. Amerika Utara kini memiliki sekitar 6–15 juta berang-berang, sementara populasi berang-berang Eurasia di Eropa telah berkembang dari 1.200 menjadi lebih dari 1,2 juta.

Saat ini, berang-berang terus memainkan peran penting dalam ekosistem lahan basah. Bendungan mereka menciptakan habitat, mengurangi erosi, dan mendukung keanekaragaman hayati, membuktikan bahwa hewan yang tampak sederhana pun dapat memberikan dampak yang besar dan bertahan lama terhadap dunia.